Mencegah Pendangkalan Bahasa Jawa

Surakarta merupakan kota terbesar kedua di Jawa Tengah. Kota Surakarta yang lebih dikenal dengan Kota Solo, sebagian masyarakatnya menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi. Namun karena perkembangan zaman penggunaan bahasa Jawa di Kota Surakarta sedikit demi sedikit sudah mulai luntur terutama di kalangan remaja. Banyak remaja Surakarta kadang mulai malu untuk menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi sehari-hari. Para remaja cenderung menggunakan bahasa Indonesia, bahasa gaul dan kadang bahasa asing. Dengan lunturnya penggunaan bahasa Jawa di kalangan remaja, hal yang sangat memprihatinkan sebagian besar remaja Surakarta tidak dapat menggunakan bahasa Jawa, sehingga timbul suatu peribahasa Wong Jowo ilang Jawane, yang artinya orang Jawa tetapi tidak dapat menggunakan bahasa Jawa.

Kenyataan tersebut sangat bertolak belakang dengan sebutan Kota Solo sebagai Kota Budaya dan Pariwisata. Banyak turis asing yang datang ke Surakarta untuk belajar kebudayaan Jawa termasuk bahasa Jawa tetapi banyak remaja Surakarta justru tidak dapat menggunakan bahasa Jawa. Apakah suatu saat nanti kita sebagai orang Jawa akan belajar bahasa Jawa pada orang asing? Hal ini perlu kita waspadai dan mendapatkan perhatian. Sebenarnya hal apa yang menyebabkan terjadinya pendangkalan bahasa Jawa di kalangan remaja?

Masyarakat Jawa yang pada zaman dahulu menggunakan bahasa Jawa sebagai komunikasi sehari-hari, dengan adanya Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 36 mulai meninggalkan bahasa daerah dalam berkomunikasi. Hal ini berdampak juga pada penggunaan bahasa Jawa di lingkungan masyarakat. Manfaaat bahasa Jawa sekarang ini sebagai sarana konservator/pelestarian dari bahasa Jawa yang merupakan salah satu macam budaya daerah. Hal inilah yang akhirnya menjadi salah satu pemicu terjadinya pendangkalan bahasa Jawa di lingkungan remaja.

Dari berbagai buku dan penelitian yang kami lakukan diperoleh hasil ada beberapa faktor yang menjadi penyebab pendangkalan bahasa Jawa di kalangan remaja. Faktor-faktor tersebut antara lain: Pertama, faktor remaja itu sendiri. Dari hasil wawancara tulis dan isian angket penelitian ternyata 8 persen remaja malu menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari dengan alasan bahasa Jawa merupakan bahasa yang sudah ketinggalan zaman, tidak gaul, sulit, tidak tahu artinya dan juga membingungkan.

Kedua, faktor Keluarga. Berdasarkan hasil sampel dari suatu penelitian 12 persen penyebab pendangkalan Bahasa Jawa dari dalam keluarga. Sejak awal memang tidak dikenalkan menggunakan bahasa Jawa, di lingkungan keluarganya, karena dalam percakapan sehari-hari tidak menggunakan bahasa Jawa tetapi menggunakan bahasa Indonesia.
Faktor ketiga adalah sekolah. Berdasarkan hasil data dari musyawarah guru mata pelajaran Bahasa Jawa, alokasi jumlah jam pelajaran bahasa Jawa baik di SD, SLTP dan SMA hanya dua jam. Padahal materi muatan bahasa Jawa sama seperti muatan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Bahkan di Kota Solo ada beberapa sekolah yang tidak mengajarkan pendidikan bahasa Jawa di Sekolahnya

.
Keempat, faktor Pemerintah. Dari pengamatan, penulis dapat mengetahui bahwa salah satu penyebab pendangkalan bahasa Jawa di kalangan remaja disebabkan karena Pemerintah Kota Surakarta pada masa lalu tidak begitu memperhatikan kegiatan yang mengarah pada pelestarian bahasa Jawa. Hal ini dikarenakan Pemkot Surakarta yang tidak mendirikan lembaga/kursus bahasa Jawa, kurangnya pengangkatan guru pendidikan bahasa Jawa juga dapat menyebabkan pendangkalan bahasa Jawa.

Unggah-ungguh

Sejatinya dalam bahasa Jawa tercermin adanya norma-norma susila, tata krama, menghargai siapa yang lebih muda dan menghormati siapa yang lebih tua. Kita sering menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi sehari-hari, tetapi sering lupa bahwa terdapat tingkat tutur pengguna bahasa Jawa yang dikenal sebagai penerapan unggah-ungguh.
Dampak negatif dari adanya pendangkalan bahasa Jawa di kalangan remaja Surakarta mulai kita rasakan. Banyak remaja yang tidak tahu penerapan sopan santun kepada mereka yang sudah tua, atau yang seharusnya dihormati. Hal yang lebih memalukan, bila mereka menggunakan bahasa Jawa krama alus, dirinya sendiri dibahasa kramakan.

Keberhasilan Wali Kota Surakarta Joko Widodo dalam membangun Kota Surakarta perlu mendapat acungan jempol. Salah satu program dari pembangunan Kota Surakarta adalah membangkitkan kembali berbagai macam budaya Kota Surakarta yang adi luhung. Dari pembenahan bangunan fisik seperti Taman Bale Kambang, Monumen Juang 45 Banjarsari, Pasar Klithikan Nataharja dan penggunaan bahasa Jawa pada hari Jum’at di semua instansi di Kota Solo. Bahkan semua papan nama setiap instansi wajib menggunakan tulisan huruf Jawa.

Ada tiga prinsip dasar yang dapat diyakini mampu membangkitkan kembali penggunaan bahasa Jawa sebagai salah satu budaya wong Solo, agar para remajanya tidak mengalami pendangkalan bahasa Jawa. Pertama, terletak pada diri remaja. Remaja Surakarta seharusnya mengupayakan untuk mencegah pendangkalan bahasa Jawa dengan menanamkan rasa cinta untuk memiliki bahasa Jawa, merasa bertanggung jawab melestarikan bahasa Jawa, menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari, menguasai dan menerapkan bahasa Jawa dengan baik dan benar dan mengembangkan bahasa Jawa melalui berbagai kegiatan lomba.
Kedua, setiap keluarga berupaya untuk mencegah pendangkalan bahasa Jawa dengan cara menanamkan sejak dini agar anak menggunakan bahasa Jawa, membiasakan diri dalam menggunakan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi di keluarga dan memberikan arti penting penggunaan bahasa Jawa dalam menerapkan pendidikan budi pekerti.
Ketiga, Pemerintah Kota Surakarta berupaya untuk mencegah pendangkalan bahasa Jawa dengan cara mengadakan evaluasi pada semua instansi apakah penggunaan bahasa Jawa pada hari Jum’at telah dilakukan, mengadakan berbagai lomba yang berkaitan dengan pelestarian bahasa Jawa, mewajibkan setiap sekolah untuk mengajarkan bahasa Jawa dengan alokasi waktu dua jam pelajaran setiap minggu yang diampu oleh guru yang berijazah bahasa Jawa, dan mendirikan lembaga perkembangan dan penelitian bahasa Jawa di Surakarta.
Melalui berbagai terobosan tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya pendangkalan bahasa Jawa di lingkungan remaja Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: